Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pemberontakan G30S PKI tak hanya berpengaruh terhadap tatanan politik bangsa ini melainkan juga ikut mengubah tatanan ekonomi terpimpin menjadi ekonomi bebas dan terbuka (Free Market). Akibat perubahan tatanan ekonomi tersebut ternyata membawa dampak yang positif terhadap seluruh bidang kehidupan di Indonesia.

Pada tahun 1971, Pembangunan Lima Tahun (Pelita) I di Indonesia memasuki tahun kedua, tetapi pembangunan tersebut sudah mulai menampakkan hasil-hasil positif di beberapa bidang terutama sektor industri dan perusahaan. Ekonomi pasar bebas telah mendorong penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun para pemodal asing (PMA). Akibatnya sektor industri dan perusahaan baru mulai bermunculan. Perusahaan, hotel, bank serta pabrik baru segera didirikan sebagai perwujudan dari penanaman modal tersebut. Selain itu sektor industri usaha pariwisata dan ekspor pun semakin hari semakin berpeluang untuk menambah devisa bagi negara. Karena itu tak mengherankan kalau kesempatan kerja semakin terbuka karena faktor-faktor vital tersebut dapat menghisap jutaan orang tenaga kerja. Sampai akhirnya Indonesia seakan kekurangan tenaga yang trampil dan terlatih termasuk di dalamnya tenaga sekretaris, administrasi dan akuntan. Intinya Indonesia mengalami kekurangan tenaga trampil di segala bidang. Dari situlah tempat-tempat kursus bahasa Inggris, kesekretarisan, manajemen dan ketrampilan mulai tumbuh seperti jamur di musim hujan.

Melihat banyaknya kebutuhan perusahaan dan industri akan tenaga sekretaris yang siap pakai tersebut, sejumlah pengurus Badan Pendidikan Kristen (BPK) Jabar Komisi PEmbantu Setempat (KPS) Jakarta yang antara lain terdiri dari Sutedja (Alm), Ny. Pouw How Tjiang, Ny. Oey Tiong Yang, Uripto Widjaja, I K Adinata (Alm), Basuki (Alm), Swanjaya (Alm), Hilman (Alm) mencetuskan suatu ide untuk mendirikan sekolah kejuruan di Jakarta. Gandasaputra (Alm)mencetuskan suatu ide untuk mendirikan sekolah kejuruan di Jakarta. Gandasaputra (Alm) dan kawan-kawan membuat rencana mendirikan Sekolah Asisten Apoteker (SAA), sementara IK Adinata (Alm) dan Uripto Widjaja memeprsiapkan rencana untuk mendirikan Sekolah Kejuruan Teknik dan Ekonomi. Maka para pengurus KPS Jakarta segera melakukan studi kelayakan untuk mendapatkan data yang akan dijadikan bahan untuk menetapkan kebijakan dan aturan sekolah kejuruan yang akan didirikan.

Dari hasil penelitian ini didapat data bahwa murid-murid sekolah kejuruan seharusnya dapat langsung bekerja sehingga dapat meringankan beban orang tua. Kenyataannya beberapa sekolah kejuruan yang telah berdiri tidak dapat memenuhi tuntutan dari perusahaan atau industri. Penelitian tersebut juga menghasilkan kesimpulan bahwa selama ini siswa yang masuk sekolah kejuruan bukanlah berdasar keinginan sendiri tetapi lebih karena alasan terpaksa karena mereka tidak dapat ditampung si Sekolah Menengah Atas (SMU sekarang). Data lain juga menyebutkan sejumlah lulusan sekolah kejuruan memiliki kemampuan yang lebih rendah dari siswa SMU sehingga mereka seakan tidak siap pakai. Diharapkan sekolah kejuruan KPS Jakarta dapat menghasilkan lulusan yang memenuhi kriteria kebutuhan tersebut.

Dari situlah akhirnya KPS Jakarta memeutuskan membuka sekolah kejuruan dalam bidang yang sangat dibutuhkan oleh dunia usaha pada saat itu. Padahal lembaga pendidikan kesekretarisan (LPK) ataupun kursus mengenai kesekretarisan secara khusus baru ada di Tarakanita. Yang banyak saat itu hanyalah kursus pembukuan. "Karena itu dibutuhkan sebuah lembaga untuk mencetak tenaga-tenaga sekretaris yang trampil dan siap pakai", ujar mereka.

Bagaimana dananya ? Untuk memenuhi kriteria yang diharapkan maka dibutuhkan beberapa sarana dan prasarana seeperti gedung sekolah dengan sejumlah sarana pendidikan yang memadai, murid-murid yang terseleksi, guru-guru yang berkualitas dengan disiplin tinggi serta dana yang cukup untuk investasi dan operasi. Setelah melakukan perhitungan ternyata dibutuhkan dana 200 juta rupiah untuk membangun tiga sekolah kejuruan. Tapi dana sebanyak itu tidak mungkin disediakan oleh KPS sendiri, maka dicarilah sumber dana lain seperti bantuan dari ICCO Belanda (Zending dari Belanda). Pihak KPS pun segera mengajukan proposal proyek yang ternyata disetuui ICCO. Akhirnya disepakati akan dicairkan dana sebesar 600.000 gulden. Namun sampai 6 bulan dana yang ditunggu-tunggu tak kunjung keluar. Akhirnya dengan dana sendiri yang serba terbatas, pembangunan gedung SMEAK dilaksanakan. Baru pada tahun 1969 wakil ICCO datang ke Indonesia namun dengan tegas Sutedja (Alm)-ketua KPS Jakarta pada waktu itu - menyatakan KPS telah membangun sendiri sekolah. Met of zonder jullie hulp wij gaan door. Atas berkat Tuhan, melalui hamba-hamba Tuhan yang terpanggil dalam ICCO Belanda tersebut, KPS Jakarta akhirnya mendapat bantuan dana yang dijanjikan tersebut.

Pada tanggal 11 Januari 1971 KPS Jakarta kembali membuka sekolah kejuruan setelah sebelumnya mendirikan Sekolah Menengah Farmasi (SMFK) pada tahun 1968. Sekolah tersebut mereka namakan Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Kristen Jabar. Proses perijinan cukup lama, baru tanggal 21 Oktober 1972 SMEAK terdaftar resmi di Depdikbud DKI Jakarta. Walaupun SMEAK ini telah berdiri, sekolah ini belum memiliki gedung sendiri. Terpaksa kegiatan belajar mengajar dipusatkan di lantai 3 gedung SMPK II Jalan Pembangunan III/1A Jakarta Pusat. Di sana SMEAK diberi lima ruangan di mana dua ruangan dipakai untuk kegiatan belajar mengajar, sementara dua lainnya untuk tempat praktek dan sebuah ruangan lain digunakan sebagai ruang kepala sekolah, guru dan tata usaha. Dengan dikucurkannya bantuan dana dari ICCO Belanda tersebut, semakin lancarlah penyelesaian gedung baru yang terletak di lantai 2 dan 3 kompleks sekolah Jalan Pembangunan III/1A. Lantai 1 dipakai untuk SDK II. Pada tanggal 1 Januari 1973 seluruh siswa SMEAK mulai menempati gedung baru tersebut. Dengan adanya bantuan itu juga SMEAK bisa memiliki empat ruangan kelas, sebuah ruangan mengetik merangkap aula serta sebuah laboratorium bahasa merk Denon yang dilengkapi dengan slide proyektor, yang bisa dibilang cukup canggih dibandingkan laboratorium bahasa yang dimiliki lembaga pendidikan lain. Untuk memenuhi kebutuhan praktek siswa-siswanya, SMEAK menyediakan beberapa sarana praktek seperti 40 buah mesin tik buatan Jerman, 1 buah mesin tik listrik IBM, 2 buah mesin jumlah tangan, 2 buah mesin jumlah listrik serta 3 buah mesin kalkulator tangan.

Berdirinya SMEAK ini merupakan salah satu wujud nyata untuk mempertegas misi pelayanan di bidang pendidikan BPK Jabar KPS Jakarta dalam upaya melaksanakan firman Tuhan yakni melayani semua orang. Bukan hanya melayani golongan yang mampu saja, tetapi juga menjangkau orang-orang yang berada di kelas menengah ke bawah. Selain itu berdirinya SMEAK ini juga dimaksudkan untuk melayani anggota jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jabar yang putera puterinya tidak dapat melanjutkan studinya ke sekolah menengah umum/atas karena terbentur oleh biaya yang besar.

Sementara itu kendala yang dihadapi SMEAK yaitu umumnya para orang tua dan calon siswa masih merasa ragu dengan kelahiran SMEAK baru ini. Mereka menganggap sekolah ini hanya coba-coba, sedangkan mereka tidak mau dijadikan kelinci percobaan. Hanya mereka yang benar-benar berminat dan mempunyai keinginan cepat memperoleh pekerjaan saja yang mau menjadi siswa angkatan pertama. Ketika itu jumlah murid tidak seluruhnya ditampung di SMEAK. Setelah melalui seleksi ketat, terjaring 46 siswa. Siswa angkatan pertama dibimbing oleh sembilan orang guru (1 guru tetap, sementara 8 lainnya guru tidak tetap) dan seorang pegawai tata usaha. Mereka adalah :

  • Drs. Brahim, sebagai guru tetap mengajar bahasa Indonesia merangkap kepala sekolah.
  • Pdt. Samuel Obadja Purwadisastra, sebagai guru tidak tetap mengajar Pendidikan Agama Kristen.
  • Sanggasurya SH, sebagai guru tidak tetap mengajar Pengetahuan hukum Dagang dan Perdata.
  • Masli Sunardhi, guru tidak tetap mengajar Ekonomi dan Matematika.
  • N. Sumarsono BA, sebagai guru tidak tetap mengajar Olahraga
  • Drs. Anhar, guru tidak tetap mengajar Mengetik, Perkantoran, Steno dan Surat Menyurat Bahasa Indonesiat
  • Amiril, sebagai guru tidak tetap mengajar PMP dan Sejarah
  • Margaretha, guru tidak tetap mengajar Bahasa Inggris
  • EL Budisusanto, guru tidak tetap mengajar Bahasa Belanda
  • Rusman Rokib, sebagai pegawai tata usaha

  • KPS Jakarta menetapkan syarat untuk memasuki SMEAK dengan test masuk yang ketat. Dari kelas I harus dapat naik ke kelas II pada tahun berikutnya; jika gagal akan dipindahkan ke SMUK. Orang tua calon siswa harus membuat perjanjian. SMEAK diarahkan sebagai sekolah terminal untuk siswa yang belajar disitu, yang terbanyak adalah siswa dari keluarga yang keadaan ekonominya lemah.
    Pada tahun kedua, calon siswa yang mendaftar di SMEAK sudah menunjukkan peningkatan, tetapi karena terbatasnya ruangan kelas maka sekolah hanya menerima 50 orang siswa baru.
    Pada tahun 1973 SMEAK dapat menampung 100 orang murid baru meski calon siswa yang mendaftar rata-rata di atas 200 orang. Sekolah sangat prihatin karena tidak dapat menampung lebih banyak siswa. Di tahun ini pula SMEAK menghasilkan lulusannya yang pertama.
    Lulusan SMEAK tersebar di berbagai perusahaan dan hampir tidak ada yang tidak mendapatkan pekerjaan. Hal ini karena kerjasama pihak sekolah dengan para pengusaha yang memberi kesempatan kepada siswa SMEAK untuk melakukan Praktek Kerja LApangan (PKL). Bahkan ada di antaranya yang kini menduduki jabatan tinggi di perusahaan-perusahaan terkemuka. Ikatan Alumni yang berdiri di hari ulang tahun SMEAK ke-25 tepatnya 28 Januari 1996 diketuai oleh Haryono Tjahjarijadi MBA (Lulusan tahun 1976).
    Pada tahun pelajaran 1980/81, setelah melalui prosedur yang ditentukan pemerintah serta didukung adanya kebutuhan masyarakat yang sangat besar, SMEAK membuka jurusan Tata buku. Pada saat jurusan ini dibuka ada sekitar 25 siswa yang terdaftar tapi ternyata pada tahun-tahun berikutnya, perkembangan jurusan ini semakin pesat bahkan siswa jurusan tata buku melampaui jumlah siswa jurusan kesekretarisan.
    Pada tahun pelajaran 1985/86, tepatnya tanggal 15 Juli 1986 SMEAK memperoleh sebuah gedung baru di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Di gedung E Jalan Tanjung Duren Raya No. 4 Jakarta Barat ini siswa SMEAK dan siswa STM menerima pelajaran dan didikan.
    Beberapa bulan setelah kepindahan SMEAK ke gedung baru, untuk pertama kalinya pemerintah mengadakan penilaian terhadap sekolah-sekolah swasta dalam upaya menentukan status sebuah sekolah. SMEAK tak luput dari penilaian, memperoleh status akreditasi "disamakan".
    Pertengahan tahun 1988 Drs. Brahim menderita sakit cukup serius dan dirawat di rumah sakit. Untuk melaksanakan tugas harian, beliau memberi kuasa kepada Drs. S. Sunarto dan Sonya Hardjanto sejak tanggal 13 September 1988. Tanggal 16 Desember 1988 beliau dipanggil Tuhan. Keluarga besar SMEAK merasakan kehilangan. Atas kebijaksanaan KPS Jakarta, Wajan B Ambara STh. saat itu menjabat Kepala STM ditunjuk sebagai pejabat kepala sekolah sejak Januari 1989 dengan dibantu oleh dua koordinator yaitu Sonya Hardjanto dan Dra. Dinah Tanuatmadja.
    What's in a name ? Banyak orang mengatakan SMEAK KPS Jakarta adalah SMEAK BPK (Jabar) kaarena memang dibawah yayasan BPK Jabar. Ada juga yang terlanjur mengatakan SMEAK KPS JAkarta adalah SMEAK Pembangunan, karena memang dulu berlokasi disitu. Sejak tanggal 21 Maret 1989 Yayasan BPK Jabar resmi bernama BPK Penabur yang dengan otomatis SMEAK juga menjadi SMEAK Penabur. Dengan diberlakukannya Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan tahun 1994, SMEAK berganti nama menjadi Sekolah Menengah Kejuruan Kristen 1 Penabur Kelompok Bisnis dan Manajemen, dimana saat ini memiliki 2 program studi yaitu kesekretarisan dan akuntansi. Pelaksanaan Kurikulum SMK 1994 melibatkan keberadaan Majelis Sekolah yang terbentuk tanggal 16 Oktober 1996, yang diketuai oleh Ruben Budhisetiawan (Ketua Umum) dan didampinghi oleh Drs. Syonanto Wijaya (Ketua Bidang Akuntansi) dan Tina Widjaja (Ketua Bidang Sekretaris). Sebagai Penasehat Majelis Sekolah ialah Uripto Widjaja, salah seorang pendiri SMEAK.
    Ada yang pergi dan ada yang datang, begitu pula keadaan guru dan pegawai tata usaha. Hingga saat ini Usa K Mihardja adalah guru terlama mengajar di SMK Kristen 1 Penabur. Tak seorang alumnipun yang tak mengenal R. Rokib yang dengan kesabarannya membantu bidang administrasi. Dan siapa yang tak mengenal tenaga pesuruh yaitu Unung.
    Keluarga besar SMK Kristen 1 Penabur mensyukuri semua berkat dan kasih Tuhan yang dirasakan dari hari ke hari. Ungkapan syukur dinyatakan dalam tugas melayani kegiatan belajar mengajar oleh aparat sekolah, begitu pula para alumni melalui program anak/adik asuh.

    VISI :
    Menjadi lembaga pendidikan Kristen yang mengutamakan mutu penyelenggaraan pendidikan, untuk menghasilkan lulusan yang beriman dan handal dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memberi peluang pengembangan bagi guru dan karyawan terbaik.

    MISI :
    Memberikan pendidikan bermutu kepada siswa agar mandiri, berguna dan siap melayani, serta memberikan peluang kepada guru dan karyawan untuk mengembangkan diri dengan didasari nilai-nilai Kristiani.

    ___________________________________
    (C)2000, SMK Kristen 1 Penabur